
Entah apa yang menjadi sangsiku pada naungan cemara
bila 1.860 hari ku ukir makna tak pernah jua ku sungguh ada gairah memadukan madu dengan bunganya....
Tiada lazim ku mencekau ampas rona coklat tua sisa tinggal perasan yang merajut serat seberkas floret dari awal percik amukan
Adakalanya ku genggam lalu terkoyak lembut lama-lama
Absah kiranya bahasa rindumu tetap saja mengalun hampa dalam tutur balasku
Terasa pula rantai merah jambu itu melonggar perlahan di balut lincah lingkaran korosi,mengeropos belikat
Dimana nuansa gerimis Anyelir serta semerbaknya Bougenville kala senja itu?
yang kerap berjatuhan di bawa lari irama semilir angin
Lalu humus-humus pekat tiada mewangi hanya kering tandus seketika
Kemana mendaratnya serakan daun-daun yang menguning atau suara renyah ranting-ranting yang sempat bila terinjak?
Di jalan sunyi itu tiada benar terkaan atau tawa riang serta tatapan sejuk dari sepasang mata faset kupu-kupu
Sisanya hanya ada senyuman simpul saja dari bibir pucatku
RAINAME26

Tidak ada komentar:
Posting Komentar