Minggu, 26 April 2009

JALAN KERONTA




Entah apa yang menjadi sangsiku pada naungan cemara
bila 1.860 hari ku ukir makna tak pernah jua
ku sungguh ada gairah memadukan madu dengan bunganya....
Tiada lazim ku mencekau ampas rona coklat tua sisa tinggal perasan
yang merajut serat seberkas floret dari awal percik amukan

Adakalanya ku genggam lalu terkoyak lembut lama-lama
Absah kiranya bahasa rindumu
tetap saja mengalun hampa dalam tutur balasku

Terasa pula rantai merah jambu itu melonggar perlahan
di balut lincah lingkaran korosi,mengeropos belikat

Dimana nuansa gerimis Anyelir serta semerbaknya Bougenville kala senja itu?

yang kerap berjatuhan di bawa lari irama semilir angin


Lalu humus-humus pekat tiada mewangi hanya kering tandus seketika
Kemana mendaratnya serakan daun-daun yang menguning atau suara renyah ranting-ranting yang sempat bila terinjak?

Di jalan sunyi itu tiada benar terkaan atau tawa riang serta tatapan sejuk dari sepasang mata faset kupu-kupu

Sisanya hanya ada senyuman simpul saja dari bibir pucatku



RAINAME26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar